Minggu, 04 Januari 2015

Senyum

                Senin 5 Januari 2015, Jakarta kembali normal dengan kehidupan tak bermanusiawinya. Entah kenapa bisa dibilang begitu, karena selama mata ini memandang banyak sekali orang berlalu lalang mengejar kehidupan menurut versi tiap individu. Memang jika terlalu dipikirkan tidak akan ada habisnya. Wanita setengah baya yang tidak kunjung berkeluarga, Perempuan bisu yang kekeuh untuk mengamen, penjaga toko dengan upah yang sungguh terlalu kecil, penjaga keamanan yang rela lembur sehari penuh selama seminggu demi sekolah anak-anaknya, orang yang kelihatan baik ternyata bermaksud jahat begitu sebaliknya, pejabat ataupun direktur2 perusahaan yang tak pernah puas dengan harta, wanita, dan jabatan, daann berbagai kondisi lainnya. Entah siapa yang harus disalahkan dengan keadaan masyarakat ibu kota yang sedemikian rupa. Pemerintahnya? Penegak hukumnya? Ulama2nya? Atau masyarakatnya sendiri? Tapi, memang tidak ada yang patut untuk disalahkan atas kondisi tersebut. Biar semua itu berjalan sesuai takdir-Nya.

                Tepat dihari yang cerah ini, diri ini kembali menulis setelah vakum kurang lebih setahun. Menulis dikota yang rantau yang berbeda dari sebelumnya. Kota yang tepat untuk memasang topeng “senyum”, senyum walau ada ruang kecil dihati terluka teramat dalam. Luka-luka yang harusnya tidak dipikirkan. Beruntung tempat bekerja mampu menciptakan suasana yang berbeda, tempat yang sudah tujuh bulan.

                Dan diakhir-awal 2015, diri ini mengenal sosok yang tak terduga. Sosok yang mampu membuat diri ini menjadi diri sendiri tanpa topeng, seperti sosok bayangan dalam cermin, persis walau tak sama. Sosok yang ternyata tahu diriku lebih dari yang diduga. Sosok yang penuh senyum namun dapat diprediksi terdapat banyak luka dalam senyum itu. Diri ini takut untuk mencari lebih dalam akan hal itu, biarlah luka sebagai luka yang sudah tertutup dan senyum itu akan terus berkembang. Entah apa yang diri ini rasakan, mencoba menahan perasaan aneh yang terus menghantui sejak kenal sosok tersebut. Diri ini enggan untuk menyelami perasaan aneh tersebut lebih dalam. Biar sang Pemilik Hati menunjukan jalan-Nya kalau itu memang cinta dari-Nya pasti akan dipermudah. Sesuatu yang tak pernah diduga dipengawal tahun 2015.

“ALLAHUMMA YASSIR WALA TU'ASSIR”



Jakarta, 5 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar