Minggu, 04 Maret 2012

Syukur Menjadikan Hidup menjadi Ajiiibbb!!

Sahabat2, guru2, dan adik2 ku..

yang dijawa maupun dimanapun kalian berada.. hhe

Please kindly, enjoy, absorb, and apply,, XP

Sahabat ku yang baik, Marilah kita mensyukuri keberadaan kita dalam kehidupan ini dengan menjadikan diri kita bernilai sesesama, agama kita tentunya (yang katanya sih paling banyak umatny..) its great!!

Mensyukuri kehidupan adalah cara untuk meninggikan penghargaan dan penghormatan kita kepada kehidupan, yang akan mengharuskan kehidupan ini mensyukuri keberadaan kita.

Itu penting, karena tidak ada orang yang menelantarkan kehidupan, yang indah tentunya.

Kehidupan ini diikat dan diharuskan taat kepada hukum sebab dan akibat, dan berlaku sangat setia dalam melayani kita. di Al -Qur'an dan Al Hadits adalah bukti nyata.

Kehidupan mengindahkan apa pun yang kita indahkan.

Jika kita mengindahkan yang baik dan memuliakan kehidupan, kehidupan adakan membangung dan memelihara kedamaian dan kebahagiaan kita.

Jika kita mendahulukan kemalasan dan penundaan, kehidupan akan melambatkan datangnya kesejahteraan dan menunda kebahagiaan kita.

Jika kita menjadikan diri kita penggembira dan pembahagia bagi keluarga dan kerabat kita, kehidupan akan pasti menyegerakan kegembiraan dan kebahagian kita.

Itu lah 3 inti nya.. tetapi..

Jika kita menenggelamkan diri dalam kesedihan dan mengisi hari dan pikiran dengan keluh kesah, kehidupan akan menambahkan kesedihan dan kesulitan yang dikiranya sangat kita nikmati peratapannya. Karena didalam islam sendiri kita dilarang untuk mengeluh dan sebagainya.

Dalam Al Qur’an dijelaskan "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, ... " Al-Ma'arij 19-22.

Jika kita menjadikan pekerjaan kita sebagai cara untuk membantu orang lain mencapai kesejahteraan mereka, kehidupan akan lebih menyejahterakan kita – agar

Janganlah menelantarkan waktu.


Karena,


Waktu ibaratnya adalah anak-anak dari kehidupan ini.


Jika Kita menelantarkan waktu, kehidupan akan melihat Kita sebagai tidak menghargainya sebagai ibu dari waktu, dan dengannya kehidupan akan memantaskan penghargaan yang sesuai bagi Kita.


Perhatikanlah, bahwa …


Semua orang yang hidupnya baik, selalu adalah orang yang hadir dalam waktu – sebagai pribadi yang baik, yang baik bagi dirinya dan orang lain, dan yang memperluas kebaikannya untuk diberikan kepada orang lain.



dan hadirlah sebagai pribadi yang bernilai di dalam waktu.


Sahabat2 ku yang baik, ( … xO)


Kita dilahirkan sebagai jiwa yang kuat.


Dengan jiwa yang kuat itulah, sebetulnya Kita direncanakan oleh Allah untuk menjadi pemimpin dalam kehidupan ini.


Dan karena kasih sayang-Nya kepada kita, Kita dan saya - juga diberikan kewenangan untuk memutuskan bagaimana kekuatan dari jiwa kita ini kita gunakan.


Kita bebas menggunakan kekuatan dari jiwa ini untuk menjadikan diri kita pribadi yang bernilai dan berwenang untuk memajukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan kepada sesama dan kepada alam. Banyak bencana ‘rek’ (java language).


Atau, seperti yang telah dicontohkan oleh banyak orang yang kemudian menjadi beban bagi orang-orang baik yang tulus bekerja dalam kejujuran, adalah penggunaan kekuatan jiwa untuk melemahkan kehidupannya sendiri.


Ya betul2... Tidak sedikit orang yang menggunakan kekuatannya untuk mengerdilkan kehidupannya sendiri.


Jika seseorang tetap bertahan menjadi pribadi yang malas dan penunda, bukankah itu sebuah kekuatan yang mengagumkan? (dari mana coba.. )


Dan lebih mengagumkan lagi, dia bersedia menjadi orang yang terbelakang dalam ilmu, derajat, dan dalam ekonomi – dengan sekuat-kuatnya argumen untuk mempertahankan kemalasan dan penundaan. Huhuhuhuh…..


Berapa banyakkah kekuatan yang lebih besar daripada keikhlasan seseorang untuk menjadikan diri dan kehidupannya tidak berguna dan tidak dihargai bahkan oleh orang-orang kecil, karena mendahulukan kemalasan? (berat banget cuy bahasanya ..)


………..


Sahabat2 ku yang kehidupannya akan di pertanggung jawabkan setelah ini,


Saya sangat menghormati kekuatan seorang pemalas. (Beneran..)


saya juga termasuk salah satu orang pemalas.. hihi..


Ketika orang lain menggunakan kekuatan untuk membangun kehidupan yang sejahtera dan membahagiakan, dia menggunakan kekuatannya untuk menjadi bukan apa-apa.


Jika itu bukan karena suatu keyakinan yang kuat, apa lagi?


karena, pasti ada sesuatu yang hebat yang diyakini para pemalas.


Mungkin mereka yakin, bahwa hati dan pikiran mereka akan cukup luas dan kuat untuk menampung rasa minder dan tak berguna yang akan semakin menguat dengan semakin besarnya kegiatan kehidupan yang tidak diikutinya, karena dia sedang menikmati kemalasan dan penundaan.


Itu seperti yang saya rasakan saat ini,ketika derajat dalam ilmu pengetahuan naik setingkat. Rasa minder itu cukup kuat untuk dirasakan dengan perbedaan budaya yang mendasar. Sampai2 ilmu yang selama ini menemani menguap tak membekas sedikit pun. Lebay lu..


Bukan main hebatnya kekuatan para pemalas! hah... :O !!!


Walau pun kemudian kekuatannya itu digunakan untuk merendahkan dirinya sendiri, saya tetap sangat menghormatinya.


Itu berarti Allah sedang sangat memperhatikannya, karena dia sedang diberikan perhitungan yang sangat pasti mengenai yang dimintanya.


Seorang pemalas tidak meminta apa pun.


Dan itulah yang persis diberikan oleh Allah.


alias Nothing! hehehe..


………..


Ooh … seKitainya saja Dia mengerti. Pastilah mengerti (Allah MAHA mengetahui)


Jika Allah sangat menurutinya dalam kemalasannya, apalagi yang tidak akan dilakukan Allah untuknya jika dia mentenagai jiwanya untuk bangkit dan mengharuskan badannya yang malas itu untuk mulai melakukan apa pun yang baik baginya?


Jika kemalasannya saja sudah sangat dihormati oleh Allah, apalagi jika dia ikhlas mengindahkan dirinya dengan kesegeraan belajar dan bekerja.


Allah menghormati kesegeraan.


Itu sebabnya Allah memerintahkan kehidupan untuk menyegerakan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi kita yang menyegerakan yang baik. Dengan patuh terhadap segala peraturan-Nya.


Dan dengannya, kehidupan juga menyegerakan perasaan minder dan tidak berguna kepada dia yang menggunakan kekuatan jiwanya untuk bermalas-malasan dan menunda yang penting baginya.


SeKirainya saja para pemalas itu menyadari,(sadar apa engga y..) bahwa


Tidak ada orang yang betul-betul malas.


Seorang pemalas adalah orang yang rajin untuk bermalas-malasan.


Dan dengannya, …


Seorang pemalas adalah orang yang rajin menjadikan dirinya merasa tidak berharga dan tidak dihargai oleh kehidupan.


Maka,


Ridhoi lah kehidupan.


Janganlah bangga dengan perendahan nilai diri dalam kehidupan ini.


………..


Sahabat saya yang harus menjadi orang tua dari anak-anak yang malas,

atau yang harus menjadi istri dari suami yang malas,

atau yang harus menjadi suami dari istri yang malas,

atau yang harus menjadi anak dari orang tua yang malas,

atau yang harus menjadi guru bagi murid yang malas,

atau yang harus menjadi murid dari guru yang malas,

atau yang harus menjadi pemimpin bagi bawahan yang malas,

atau yang menjadi anak buah dari atasan yang malas,


atau yang menjadi anggota dari bangsa yang malas,


marilah kita ikhlaskan diri kita untuk mencapai ridho Allah terhadap kehidupan.


Terlibatlah dalam kehidupan ini dengan suka cita dan suka rela.


Dia yang hidup dengan mensuka-citakan dirinya, akan disuka-citakan kehidupannya.


Dan bagi dia yang hidup dengan mensuka-relakan dirinya bagi kebahagiaan sesamanya, Allah akan merelakan kehidupan yang sejahtera, yang membahagiakan, dan yang cemerlang. Amiiiinnnn……



Bersuka-citalah dalam melayani sesama saudara kita dalam pekerjaan Kita.


Karena,


Pekerjaan adalah doa yang berbentuk tindakan.


Dan tidak ada doa yang bernilai-jawab lebih tinggi daripada doa yang dijadikan kehidupan, atau kehidupan yang dijadikan doa.


Allah MAHA Besar dalam kasih sayang-Nya.


………..


Sahabat….


Mudah-mudahan Note – Monthend ( ada juga ternyata ) Edition ini, dapat melengkapi kekuatan jiwa kita dalam membangun diri ( maklum dapat nilai jelek, pas B. I. lagi) dan pergaulan yang berdaya bangun yang besar.


Perintah untuk memajukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan, tidak diturunkan kepada jiwa-jiwa yang lemah.


Perintah itu diturunkan kepada kita yang menugaskan diri bagi penyejahteraan, pembahagiaan, dan pemuliaan kehidupan sesama.


Mudah-mudahan Allah segera menyejahterakan Kita dan keluarga tercinta,terutama saudara se Iman kita yang jauh di mato, dan melengkapi kehidupan Kita dengan kebahagiaan dan kemuliaan yang tak terputus dan tersambung terus - dengan kehidupan Kita bersama keluarga tercinta di surga kelak.



Stay here!!! (what Is mean. :P )



ITT, Bandung

January 31, 2010

17:17 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar